Ida Pandita Mpu Siwa Dhaksa Kusuma

Jalani Titah Catur Asrama

Reporter : I Putu Patra

Ada alasan khusus bagi Ida Pandita Mpu Siwa Dhaksa Kusuma mengapa menapak jalan madiksa. Intinya adalah penyucian diri seperti yang telah dititahkan dalam ajaran Weda dengan jalan Catur Asrama (Empat tingkatan hidup). Di samping mengikuti jejak leluhur guna meneruskan perjalanan beliau. Juga mendapat dukungan luas dari masyarakat secara sekala.


Berbicara dengan sulinggih yang baru saja didiksa memberikan kesan serba baru. Jalan hidup juga baru dalam arti karena status sudah berbeda. Tidak lagi seperti walaka. Jalan menjadi sulinggih bukanlah suatu yang menakutkan, karena sudah diatur berdasarkan karma. Apalagi di dalam ajaran Weda memberikan tuntunan setiap kehidupan agar meningkatkan kesucian. Mulai dari melaksanakan pawintenan Saraswati guna melangkah menimba ilmu.

Juga dikenal dengan pawintenan kepamangkuan yaitu penyucian bagi yang akan menjalani hidup sebagai pamangku, begitu seterusnya menjadi jro gede (Ida Bhawati), hingga pawintenan trijati menjadi sang sulinggih. Jalan ini telah ditapak I Gede Sukadana mulai dari langkah awal sehingga menjadi sulinggih bergelar Ida Pandita Mpu Siwa Dhaksa Kusuma.

Bagaimana perjalanan Ida Pandita dari walaka hingga menjadi sulinggih? Berbincang-bincang dengan Ida Pandita berjambang hitam lebat ini tidaklah sulit. Apalagi baru saja malinggih pada tanggal 10 September 2008. Masih belia sekali kalau dihitung dari kelahiran bayi.

Tapi, perjalanan madiksa hingga bergelar Ida Pandita telah dijalani dengan pertimbangan yang matang, digembleng dengan berbagai ajaran rohani, upakara, spiritual, serta etika sebagai orang suci. Begitu juga sesana sulinggih telah dipahami Ida Pandita kelahiran tahun 1945 ini.

Sejatinya, tutur sulinggih 9 anak ini, tidak terbayang akan menjadi sulinggih. Tapi titah secara niskala memberikan jalan agar mau menuruti pamargin sang leluhur. Apalagi di karang yang ditempati sekarang ini pernah ditinggalkan cukup lama karena suatu hal. Akhirnya kembali ke karang semula guna melanjutkan titah Ida Sasuhunan.

Dengan perjalanan hidup sebagaimana manusia pada umumnya. Ida Pandita yang tinggal di Punggul, Abiansemal, Badung ini punya skil cukup membanggakan. Artinya, tidak semua orang mampu melakoni pekerjaan tersebut. Programmer ahli bade, atau membuat sket-sket palinggih adalah keahlian Ida Pandita sejak walaka. Anehnya di dalam menekuni profesi tersebut, tutur Pandita bertubuh agak tambun ini, sering mensosialkan hasil karyanya. Maksudnya tidak menerima upah/bayaran. Semua ini, beliau lakukan karena merasa wajib melakukan dana punia sesuai dengan kemampuan.

“Tiang tidak jarang melakukan pekerjaan tanpa bayaran, semua itu tiang lakukan dengan hati yang tulus,” tutur Pandita berpenampilan tenang ini. Ditanya alasan madiksa? “Tiang ngamargiang catur asrman. Agama ngicenin iraga ngamargiang undag-undang hidup, ngawit saking sor nyantos malinggih nyuciang raga,” beber Ida Pandita dengan apa adannya.

Setelah malinggih, kata Pandita lebih lanjut, tugas berat dipikul sebagai tanggung jawab dalam kesulinggihan. Bahkan setelah menjadi sulinggih, ada sesana yang wajib ditaati. Tidak boleh sembarangan pergi atau keluar griya tanpa ada yang menemani. Berbeda sejak walaka, atau menjadi Bhawati, masih bisa keluar bebas dalam arti sesuai dengan sesana.

“Yang paling pokok, malinggih kadi baos wawu, bukan semata agar dapat muput yadnya. Tujuan madiksa sane pinih unteng adalah ngarastiti jagat, tur memberikan pencerahan rohani kepada umat sami,” urai Pandita tamatan SMP ini.